Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2011

Peran Kepribadian Guru dalam Membentuk Kepribadian Siswa

Posted by Eko 06.48, under | No comments

Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding profesi lainnya. Karena ada ungkapan yang sering dikatakan “guru digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani.[1]   
Karena itu, hal yang paling utama dilakukan guru dalam usaha membentuk kepribadian muridnya menjadi pribadi yang mulia, terlebih dahulu seorang guru harus mampu menjadikan dirinya seorang yang patut ditiru.

Kamis, 17 Maret 2011

Kompetensi Dasar Pengawas Memahami Evaluasi

Posted by Eko 03.36, under | No comments


A.  Pengertian Evaluasi
Evaluasi menurut bahasa berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily, 1983:220). Sedangkan menurut istilah evaluasi adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu ibyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Anne Anastasi mengartikan evaluasi sebagai:
“A systematic process of determining the extent to which instructional objektivitas are achieved by pupils”. (Anne Anastasi, 1978: 6).

Evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan incidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sacara, terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.[1]

Kamis, 27 Januari 2011

Profesionalisme Guru dan Peningkatan Mutu Pendidikan di Era Otonomi Daerah

Posted by Eko 06.20, under | No comments

PENDAHULUAN

Tuntutan terhadap lulusan dan layanan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak   karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang memungkinkan peluang lembaga pendidikan asing membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan antar lembaga penyelenggara pendidikan dan pasar kerja akan semakin berat. Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan kecuali hanya mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik dan layanan lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan.
Dalam tulisan ini dibahas tentang paradigma baru dalam pendidikan, apa dan mengapa mutu, etos kerja dan profesionalisme guru serta tantangan dunia pendidikan terkait dengan perkembangan teknologi informasi dan otonomi daerah/desentralisasi pendidikan.
PARADIGMA BARU
Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, dikenal dengan paradigma baru manajemen pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan pendidikan bermutu (Wirakartakusumah, 1998).
1. Mutu
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk atau hasil dan jasa tersebut.
2. Otonomi
Pengertian otonomi dalam pendidikan belum sepenuhnya mendapatkan kesepakatan pengertian dan implementasinya. Tetapi paling tidak, dapat dimengerti sebagai bentuk pendelegasian kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan staf pengajar/staf non akademik, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta penentuan standar akademik. Dalam penerapannya di sekolah, misalnya, paling tidak bahwa guru/pengajar semestinya diberikan hak-hak profesi yang mempunyai otoritas di kelas, dan tak sekedar sebagai bagian kepanjangan tangan birokrasi di atasnya.
3. Akuntabilitas
Akuntabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output dan outcome yang memuaskan pelanggan. Akuntabilitas menuntut kesepadanan antara tujuan lembaga pendidikan tersebut dengan kenyataan dalam hal norma, etika dan nilai (values) termasuk semua program dan kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini memerlukan transparansi (keterbukaan) dari semua fihak yang terlibat dan akuntabilitas untuk penggunaan semua sumberdayanya.
4. Akreditasi
Akreditasi merupakan suatu pengendalian dari luar melalui proses evaluasi tentang pengembangan mutu lembaga pendidikan tersebut. Hasil akreditasi tersebut perlu diketahui oleh masyarakat yang menunjukkan posisi lembaga pendidikan yang bersangkutan dalam menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Pelaksanaan akreditasi dilakukan oleh suatu badan independen yang berwenang. Di Indonesia pelaksanaan akreditasi pendidikan untuk Perguruan Tinggi dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan sekolah-sekolah menengah ke bawah oleh Badan Akreditasi Sekolah (BAS).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu upaya sistematis untuk mengumpulkan dan memproses informasi yang menghasilkan kesimpulan tentang nilai, manfaat, serta kinerja dari lembaga pendidikan atau unit kerja yang dievaluasi, kemudian menggunakan hasil evaluasi tersebut dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan. Evaluasi bisa dilakukan

Rabu, 26 Januari 2011

Mendidik Anak

Posted by Eko 05.34, under | No comments

Oleh:
Syaikh Muhammad Jamil Zainu
Editor:
Eko Supiyan, S.Pd.I


Allah Ta'ala berfirman :
] يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا [
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim : 6).
     Ibu, Bapak dan Guru bertanggungjawab di depan Allah terhadap pendidikan generasi muda. Jika pendidikan mereka baik, maka berbahagialah generasi  tersebut di dunia dan  akhirat. Tapi jika mereka mengabaikan pendidikannya maka sengsaralah generasi tersebut, dan beban dosanya berada pada leher mereka. Untuk itu disebutkan dalam suatu hadits Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam :
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته. متفق عليه.
“Setiap orang di antara kamu adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (muttafaq alaih).
     Maka adalah merupakan kabar gembira bagi seorang guru, sabda Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam berikut ini :
فو الله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم. رواه البخاري ومسلم.
“Demi Allah, bahwa petunjuk yang diberikan Allah kepada seseorang melalui kamu lebih baik bagimu dari pada unta merah (kekayaan yang banyak).” (riwayat Bukhari dan Muslim).
    
Dan juga merupakan kabar gembira bagi kedua orang tua, sabda Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam berikut ini :
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له.
“Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; sedekah jariyah, atau ilmu yang berrrmanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (riwayat Muslim).

Selasa, 09 November 2010

UPAYA MENUMBUHKEMBANGKAN MINAT ANAK TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

Posted by Eko 16.04, under | No comments



Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah dan tak berdaya, namun demikian ia telah mempunyai potensi bawaan yang bersifat laten. Dalam perkembangannya, manusia dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, dan salah satu sifat hakiki manusia adalah mencapai kebahagiaan.
Mudlor Ahmad sebagaimana di kutip oleh Muhaimin dan Abdul Mujib mengatakan bahwa:
 Fitrah merupakan suatu pembawaan setiap manusia sejak lahir, dan mengandung nilai-nilai religi. Penyimpangan fitrah yang merupakan akibat dari faktor lingkungan (pendidikan). Di dalam fitrah terkandung pengertian baik buruk, benar salah, indah jelek, lempang-sesat, dan seterusnya. Oleh karenanya pelestarian fitrah ini dapat dibentuk lewat pemeliharaan sejak awal (prefentif) atau mengembalikannya pada kebaikan setelah ia mengalami penyimpangan (kuratif).[1]

Fitrah ini baru berfungsi setelah melalui proses bimbingan dan latihan. Fitrah manusia sebagai anugerah Allah Swt. yang tidak ternilai harganya itu harus dikembangkan agar manusia dapat menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). Usaha pengembangan fitrah harus dilaksanakan secara sadar, berencana, sistematis, eksplisit, menyeluruh, dan seimbang. Dan jika fitrah tersebut tidak dikembangkan secara menyeluruh dan seimbang, maka tidak  akan tercapai apa yang disebut manusia sempurna (insan kamil).[2] Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Alquran surat al-Rum ayat 30 sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Secara sempit fitrah dalam ayat tersebut bermakna potensi untuk beragama,   potensi itu harus dikembangkan dengan melalui pendidikan. Hal ini sebagaimana  di jalaskan firman Allah dalam surat al-Nahl ayat 78 yang berbunyi: 
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
 Jadi jelaslah, bahwa potensi bawaan (agama) tersebut memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan (pendidikan) yang mantap lebih-lebih pada usia dini. Tanda-tanda keagamaan pada diri anak tumbuh terjalin secara integral dengan perkembangan fungsi-fungsi kejiwaan pada diri anak. Belum terlihatnya tindakan keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang belum sempurna. Namun demikian pengalaman-pengalaman yang diterima oleh anak dari lingkungan akan membentuk rasa keagamaan pada diri anak. Oleh karena itu, perlu usaha bimbingan dan latihan dari pendidik (orangtua) seiring dengan perkembangan anak.
Sesuai dengan prinsip pertumbuhannya, maka seorang anak menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip yang dimilikinya yaitu:
1.      Prinsip Beologis
Secara fisik anak yang baru dilahirkan dalam keadaan lemah. Dalam segala gerak dan tindak tanduknya ia selalu memerlukan bantuan dari orang-orang dewasa sekelilingnya. Dengan kata lain ia belum dapat berdiri sendiri karena manusia bukanlah merupakan makhluk instinktif. Keadaan tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
2.      Prinsip Tanda Daya
Sejalan dengan belum sempurnanya pertumbuhan fisik dan psikisnya maka anak yang baru dilahirkan hingga menginjak usia dewasa selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk mengurus dirinya sendiri.
3.      Prinsip Eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan potensi manusia yang dibawanya sejak lahir baik jasmani maupun rohani memerlukan pengembangan melalui pemeliharaan dan latihan. Jasmaninya baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya.[3]
Melihat prinsip tersebut, maka pendidikan Islam dapat ditempuh di rumah (keluarga), sekolah dan masyarakat. Dalam keluarga, secara praktis seorang anak yang tumbuh di rumah akan memulai kehidupannya dalam keadaan terlindung dari penyakit-penyakit moral dan pikiran. Di masa remaja ia sudah sanggup berjuang untuk tidak mau menyerah pada keinginan-keinginan nafsunya yang membahayakan. Hal ini sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh beberapa kajian Islam di bidang pendidikan dan moral.
Salah seorang ulama kaum muslimin yang pernah mengingatkan hal itu dan menganggapnya sebagai salah satu sendi pembentukan sistem pendidikan dalam berbagai kitabnya, khususnya kitab Ihya’Ulumuddin. al-Ghazali menerangkan tentang riyadhah atau upaya melatih anak-anak kecil pada awal pertumbuhan mereka. Ia menegaskan, sesungguhnya anak kecil itu amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Ia menerima setiap goresan, dan cenderung ke mana ia diarahkan. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia dan di akhirat. Jika sudah memasuki usia akil baligh, jangan beri ia toleransi meninggalkan bersuci dan shalat. Pada hari-hari di bulan suci Ramadhan ia harus diperintah untuk ikut menjalankan ibadah puasa.[4]
Apabila di masa kecil seorang anak tumbuh seperti itu, pada usia akil baligh ia sudah banyak terpengaruh olehnya, karena mengukir pada hatinya sama gampangnya seperti mengukir pada seonggok batu. Tetapi kalau ia tumbuh kebalikannya, seperti ia masih suka bermain, suka berbuat jahat, memakan makanan yang tidak halal, memakai pakaian yang haram, mengenakan perhiasan yang syubhat, sombong dan lain sebagainya. Ibarat tembok yang susah ditempeli pasir yang kering.[5]
Pengendalian utama kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup segala unsur-unsur pengalaman, pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil.[6] Apabila sejak kecil anak sudah terbiasa dengan nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya, maka kelak waktu dewasa dia akan memiliki kepribadian yang mulia, dan terhindar dari perbuatan tercela.
 Oleh karena itu, untuk menumbuhkembangkan minat anak terhadap pendidikan Islam dapat dilakukan dengan memberikan keteladanan dan membiasakan anak sejak dini.
Metode keteladanan berarti metode dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berfikir dan sebagainya.[7] Keteladanan adalah metode yang influitif yang paling meyakinkan keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk anak di dalam moral spiritual dan sosial.  Ini sejalan dengan pendapat Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad fil Islam:
"القدوة فى التربية هى من أنجع الوسائل المؤثرة في إعداد الولد خلقيا. وتكوينه نفسيا واجتماعيا. ذلك لأن المربي هو المثل الأعلى في نظر الطفل"[8]
Menurutnya keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang paling berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk  aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik (orang tua) adalah figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak, akan ditiru anaknya.
Keteladanan bagi anak mempunyai pengaruh yang besar terhadap pribadi anak, sehingga peran orang tua, sekolah dan masyarakat juga dituntut agar bisa menjadi contoh yang baik bagi peserta didiknya. Hal ini terjadi, karena dalam prakteknya peserta didik cenderung meneladani pendidiknya.
Di samping metode keteladanan, pembiasaan juga merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. Pembiasaan yang harus dikembangkan dalam diri anak pada dasarnya harus mencakup tingkah laku, ketrampilan, kecakapan dan pola pikir tertentu.[9] Oleh karena itu, Ahmad Tafsir berpendapat, bahwa pembiasaan merupakan teknik pendidikan yang jitu, walau ada kritik terhadap metode ini. Karena cara ini tidak mendidik anak untuk menyadari dengan analisis apa yang dilakukannya. Oleh karena itu, pembiasaan ini harus mengarah kepada kebiasaan yang baik.[10]
Bentuk metode pembiasaan yang harus ditanamkan dalam diri anak adalah pembiasaan akidah, ibadah dan akhlak al-karimah.[11] Orang tua dalam hal ini sangat berperan dalam membiasakan anaknya untuk menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan rumah tangganya. Mulai dari hal-hal yang kecil sampai pada hal-hal yang lebih besar. Karena kebiasaan itu akan mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak kelak. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah syair yang artinya: “Anak akan tumbuh pada apa yang dibiasakan ayahnya kepadanya. Ia tidak dapat tunduk oleh akal, tetapi kebiasaanlah yang dapat menundukkannya.”[12]
Menanamkan kebiasaan itu memang sulit, kadang-kadang memerlukan waktu yang lama, karena itulah orang tua dituntut untuk menjadikan dirinya sebagai teladan terlebih dahulu, agar dalam pembiasaan nantinya anak tidak terlalu sulit. Bila orang tua hanya sekedar membiasakan anaknya untuk berbuat kebaikan sedangkan dia sendiri tidak melakukan maka hal ini akan menimbulkan tekanan mental atau gejolak jiwa pada anak. Yang pada akhirnya anak tidak akan berminat untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam.
Untuk itulah, keteladan dan pembiasaan merupakan hal yang sama-sama fundamental dalam mendidik anak di dalam lingkungan keluarga. Kalau ingin berhasil dalam mendidik anak, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, di samping orang tua juga harus membiasakan anak untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam.   


[1]Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Trigenda Karya, Bandung, 1993, h. 27.
[2]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), h. 204-205.
[3]Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 63-64.
[4]Ibid, h. 64
[5]Ibid, h. 93
[6]Zakiah Daradjat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1983),Cet-ke 7, hlm. 56-57.
[7]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, op.cit., h. 178
[8]Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah al-Aulad Fi al-Islam, (Bairut : Dar al-Salam, tth.), Jilid 2, h. 633.
[9]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, op.cit., h. 185 
[10]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 144.
[11]M. Nipan Abdul Halim, Anak Saleh Dambaan Keluarga, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003), h. 187.
[12]Abdullah Nasih Ulwan “Tarbiyah al Aulad Fi al-Islam” diterjemahkan oleh Jamaludin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), Cet. ke-3, Jilid 2,  h. 194

Minggu, 07 November 2010

MEDIA GAMBAR

Posted by Eko 21.11, under | No comments

 A. Pengertian Media Gambar
Kata media berasal dari bahasa latin, yakni medius yang secara harfiahnya berarti tengah, pengantar atau perantara. Dalam bahasa Arab, media disebut wasail bentuk jama’ dari wasilah yakni sinonim al-wasth yang artinya juga tengah. Karena posisinya berada di tengah ia disebut sebagai pengantar atau penghubung, yakni yang menghantarkan atau menghubungkan sesuatu hal dari satu sisi ke sisi lainnya. 

Kata media memiliki arti yang beragam, tergantung pada konteks apa istilah tersebut melekat mengingat kata tersebut telah dipakai secara luas pada banyak bidang. Berikut ini merupakan pengertian media menurut beberapa pendapat:
1. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
2. NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya.

Gambar adalah foto, lukisan atau gambar, dan sketsa (gambar garis). Ia merupakan media visual yang penting dan mudah didapat. Sebab ia dapat mengganti kata verbal, mengkonkritkan sesuatu yang abstrak, dan mengatasi pengamatan manusia. Gambar membuat orang dapat menangkap ide atau informasi yang terkandung di dalamnya dengan jelas, lebih jelas daripada yang diungkapkan oleh kata-kata.
Dari beberapa pendapat tersebut diatas, jelaslah bahwa media gambar merupakan media yang dapat dilihat oleh indera penglihatan yang diperjelas melalui gambar-gambar dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan anak dalam memahami pelajaran secara lebih cepat.

B. Syarat Media Gambar
Media gambar yang baik adalah yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Harus autentik, yaitu gambar tersebut haruslah jujur melukiskan situasi seperti kalau orang melihat benda sebenarnya.
2. Sederhana, yaitu komposisinya hendaklah cukup jelas menunjukkan poin-poin pokok dalam gambar.
3. Ukuran relatif, yaitu gambar dapat membesarkan atau memperkecil objek atau benda sebenarnya.
4. Gambar sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan, yang memperlihatkan aktivitas tertentu.
5. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

C. Kelebihan dan Kekurangan Media Gambar
Media gambar mempunyai beberapa kelebihan antara lain:
1. Gambar bersifat konkret.
2. Gambar mengatasi batas waktu dan ruang.
3. Gambar mengatasi kekurangan daya mampu panca indera manusia.
4. Dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu masalah, karena itu bernilai terhadap semua pelajaran di sekolah.
5. Gambar-gambar mudah didapat dan murah.
6. Mudah digunakan, baik untuk perseorangan maupun untuk kelompok siswa.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, media gambar mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
1. Gambar hanya menekankan persepsi indera mata.
2. Gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
3. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.
Meskipun ada pernyataan bahwa media gambar mempunyai beberapa kelemahan, tetapi media gambar tetap merupakan media yang paling umum dipakai, yang dapat dimengerti dan dipahami di mana saja. Media gambar juga mudah didapat, baik dari brosur-brosur, poster-poster, majalah-majalah yang berisi gambar-gambar yang bagus dan tinggi mutunya, dan dari segi warna baik hitam putih maupun warna-warni, atau dengan membuat media gambar yang sederhana, dengan menggunakan teknik garis dan lingkaran.

D. Macam-macam Media Gambar
Media gambar terbagi atas:
1. Gambar Jadi
Gambar jadi yaitu gambar-gambar yang diambil dari majalah, booklet, brosur, selebaran, dan lain-lain. Dari berbagai sumber seperti tersebut di atas, diharapkan tersedia gambar yang sesuai dengan isi pelajaran.
Gambar yang dikumpulkan dan dipilih untuk digunakan dalam penyampaian materi pelajaran sebaiknya difotocopy, kemudian gambar-gambar itu digabung dengan label judul dengan huruf-huruf lekat (misalnya rugos). Hasilnya dapat difotocopy atau difoto kemudian dicetak diatas kertas fotografi yang baik dengan ukuran yang diinginkan.
2. Gambar Garis
Gambar garis merupakan gambar sederhana yang dapat dibuat sendiri pada papan tulis ketika berada di kelas atau dipersiapkan lebih dahulu pada lembar karton atau kertas yang sesuai.
Gambar garis dapat digunakan pada media flash card (kartu kecil yang berisi gambar, teks dan biasanya berukuran 8 x 12 cm). Kartu-kartu tersebut menjadi petunjuk dan rangsangan bagi siswa untuk memberikan respon yang diinginkan. Gambar garis juga dapat digunakan pada strip story yang merupakan potongan-potongan kertas yang berisi tulisan, yang diharapkan siswa dapat menyusun tulisan-tulisan menjadi satu untaian.

Selasa, 26 Oktober 2010

KETELADANAN SEBAGAI METODE DALAM PENDIDIKAN

Posted by Eko 23.36, under | No comments

 
Bila dicermati secara historis  pendidikan  di zaman Rasulullah Saw. dapat dipahami bahwa salah satu faktor terpenting yang membawa beliau kepada keberhasilan adalah keteladanan (uswah).[1] Rasulullah Saw. di dalam mendidik tidak hanya melalui kata-kata saja, tetapi, lebih banyak memberikan keteladanan dalam mendidik umatnya. Karena itulah, keteladanan dikatakan sebagai  metode yang sangat efektif dalam pendidikan, khususnya pendidikan Islam.    
Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad fil Islam:
"القدوة فى التربية هى من أنجع الوسائل المؤثرة في إعداد الولد خلقيا. وتكوينه نفسيا واجتماعيا. ذلك لأن المربي هو المثل الأعلى في نظر الطفل. والأسوة الصالحة في عين الولد. يقلده سلوكيا. ويحاكيه خلقيا من حيث يشعر أولايشعـر. بل تنطبع في نفسه وإحسانه صورته القولية والفعلية والحسية والمعنوية من حيث يدري أولايدري"[2]
Maksudnya keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang paling berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual , dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak didik, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak, akan ditiru anak didiknya.
 Oleh karena itu, keteladanan yang baik adalah salah satu metode  yang digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan. Hal ini karena keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan, dan juga dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai pendidikan Islam.
Dalam praktek pendidikan dan pengajaran, metode keteladanan ini dilaksanakan dalam dua cara, yaitu; Pertama, secara langsung (direct) maksudnya bahwa pendidik benar-benar menjadikan dirinya sebagai contoh teladan yang baik bagi anak didik. Kedua, secara tidak langsung (indirect) yang maksudnya, pendidik menceritakan riwayat para nabi, kisah-kisah orang besar, pahlawan dan syuhada, yang tujuannya agar anak didik menjadikan tokoh-tokoh tersebut sebagai suri teladan dalam kehidupan mereka.[3]
Layaknya metode-metode yang lain, metode keteladanan juga memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri. Namun kelemahan dan kelebihan metode keteladanan ini tidak bisa dilihat secara kongrit. Tetapi secara abstrak Armai Arif mengatakan kelebihan dan kekurangan metode ini dapat diinterprestasikan sebagai berikut:
1.      Kelebihan
a.       Akan memudahkan anak didik dalam menerapkan ilmu yang dipelajarinya di sekolah.
b.      Akan memudahkan guru dalam mengevaluasi hasil belajarnya.
c.       Agar tujuan pendidikan lebih terarah dan tercapai dengan baik.
d.      Bila keteladanan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat baik, maka akan tercipta situasi yang baik.
e.       Tercipta hubungan harmonis antara guru dan siswa
f.       Secara tidak langsung guru dapat menerapkan ilmu yang diajarkannya.
g.      Mendorong guru untuk selalu berbuat baik karena akan dicontoh oleh siswanya.
2.      Kekurangan
a.       Jika figur yang mereka contoh tidak baik, maka mereka cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula.
b.      Jika teori tanpa praktek akan menimbulkan verbalisme.[4]

      
Dengan demikian, apa yang telah diuraikan tersebut di atas, dapatlah menjadi suatu gambaran bahwa keteladanan guru sangatlah berpengaruh pada pendidikan anak, karena metode ini sangat efektif dan meyakinkan akan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk moral, spiritual dan sosial anak. Untuk itulah pendidik harus menyadari bahwa dirinya merupakan figur yang baik dalam pandangan anak didik, yang mana perkataan dan perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didik.


[1] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h, h.116
[2]Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah al-Aulad Fi al-Islam, (Bairut : Dar al-Salam, tth.), Jilid 2, h. 633.
[3]Asnelly Ilyas, Mendambakan Anak Shaleh; Prinsip-prinsip Pendidikan Anak dalam Islam, (Bandung: al-Bayan, 1998), h. 39 
[4]Armai Arif, op.cit., h.122-123