Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Januari 2011

KASIH SAYANG DAN KEMANUSIAAN SEBAGAI WATAK KEPEMIMPINAN RASULILLAH MUHAMMAD SAW.

Posted by Eko 16.25, under | No comments

الحمدلله, الحمدلله الذى ارسل رسوله بالهدى ودين الحقّ ليظهره على الدّين كله وكفى بالله شهيدا. وانّ الله سبحانه وتعالى ماا تّخذ صاحبة ولا ولدا. أشهد أنّ لااله إلا الله لآأشرك به أحدا.واشهد أنّ سيدنا محمّد اعبده ورسوله المبعوث الى سائر ا لأ مة شفاعة لهم وأنجدهم نخدا. اللهم صلى وسلّم على سيدنا محمّد عبدك ورسولك وعلى اله وصحبه الذّين اتبعوا دينه مخلصين له ابدا. (امّا بعـد) فيا أيهاالناس. ا تّقوا الله عندما اشتهـــرت بأنّ هذ الشــّهر شــهر شر يف. ينهضّ قلـــوب ا لأمّة الى معرفة اسر ار وحكاية شر يفة . وعند ذلك يتفجّر ينابع الحكـمة بشــفاعة الذي ذكــر بعظمــته. قال الله تـعالى اعـــــوذبالله من الشيطان الرّجيم : قل ان كنتم تحبّون الله فاتّبعونى. يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم. والله غفور الرّحيم

HADIRIN JAMAAH JUM’AH YANG DUMULIAKAN ALLAH . .
Dalam suasana keceriaan dan kebahagiaan ini, marilah kita pupuk keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dan Rasulnya Muhammad SAW. dengan jalan tetap menjaga syari’at dan mengimplementasikannya dalam hidup dan kehidupan. Menjalankan segala perintah’ Nya dan menjauhi larangan-Nya, berakhlakul karimah, senantiasa beramar ma’ruf nahi mungkar dengan penuh kasih sayang.
وما أرسلناك إ لاّ رحمة للعلمين

Artinya : “Tidaklah aku mengutus Engkau wahai Muhammad, kecuali untuk merahmati semesta alam.” (Qs. Al Anbiya’ : 107)
Tentulah bukan karena sekedar kebetulan, atau bahkan hal yang dianggap wajar, bila ternyata Allah SWT. mengutus Nabi Muhammad SAW. dan agama yang dibawanya merupakan “Rahmat”, merupakan kasih sayang bagi semesta alam. Siapapun yang mempelajari Sirah Nabi SAW., akan dengan mudah menemukan bukti hikmah-hikmah kasih sayang Islam. Kasih sayang bisa dengan mudah anda temui dalam kehidupan sehari-hari sang Rasul SAW. baik sebagai bapak dan suami dalam lingkungan keluarga, sebagai saudara di lingkungan handai taulan, sebagai teman di kalangan sahabat, sebagai guru diantara para murid maupun sebagai pemimpin di kalangan umat, bahkan sebagai manusia di tengah-tengah makhluk Allah yang lain.
HADIRIN SIDANG JUM’AH RAHIMAKUMULLAH ..........
Dalam surat Al-Taubah ayat 128 Allah Ta’ala mensifati Nabi Muhammad SAW. dengan beberapa sifat yang kesemuanya merupakan penggambaran akan besarnya kasih
sayang beliau, ayat itu berbunyi sebagai berikut :
لقد جاءكم رسول من أنفسكم عز يز عليه ماعنتّم حر يص عليكم بالمؤمنين رءوف الرّ حيم

Artinya : “Benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, yang terasa berat baginya penderitaan kalian, penuh perhatian terhadap kalian, dan terhadap orang-orang mukmin sangat pengasih lagi penyayang.”
Dalam ayat itu disebutkan bahwa; Rasulullah SAW. adalah orang yang “Aziezun ‘Alaihi Maa ‘Anittum”, yang merasakan betapa berat melihat penderitaan kaumnya dan “Hariesun ‘Alaikum”, yang sangat mendambakan keselamatan kaumnya; dan “Rauufur Rahiem”, pengasih lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.
Penderiataan kaumnya terasa berat sekali bagi Rasulullah SAW. baik penderitaan itu dialami di dunia maupun  -apalagi- di akhirat kelak. Oleh karena itu Rasulullah SAW. begitu “Hariesh” penuh perhatian, dan sangat mendambakan keselamatan kaumnya ( umat manusia) jangan sampai menderita. Dan hal ini dapat dilihat dari sikap dan sepak terjang beliau dalam kehidupan dan perjuangannya : Bagaimana beliau menyantuni dan menganjurkan penyantunan terhadap kaum dhu’afa, bagaimana beliau menegakkan dan menganjurkan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, bagaimana beliau berperangai dan menganjurkan untuk berakhlakul karimah, bagaimana beliau tak henti-hentinya melakukan dan menganjurkan “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar”, dan seterusnya dan sebagainya.
Khusus tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, bahkan menjadi ciri dan tugas Nabi, juga diharapkan menjadi ciri ummatnya, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, apabila dicermati, kiranya memang merupakan pengejawentahan dari keinginan Nabi atas keselamatan umat manusia, agar tidak menderita, yang bersumber dari dan didorong oleh kasih sayang itu pula. Bahkan, boleh jadi hanya orang yang mempunyai rasa kasih sayang dan memahami Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar hampir tidak bisa dibayangkan berjalan dan apalagi membudaya dalam masyarakat yang tidak saling menyayangi dan mengasihi. Maka tidaklah mengherankan bahwa, sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW. sangat ditaati, karena dan dengan kasih sayang, bukan ditaati karena ditakuti dan dengan kebencian atau keterpaksaan.

Jadi kasih sayang Allah yang mewujud di dalam firman-Nya, perintah dan larangan-Nya, dalam semua ajaran-Nya Nabi lah yang membawanya, melalui kepribadiannnya yang pengasih dan penyayang ke dalam kehidupan umat manusia, atau boleh juga dikatakan; apabila Islam merupakan kasih sayang Allah, maka Nabi Muhammad SAW. merupakan “bentuk kongkrit” dari Islam itu sendiri.
HADIRIN JAMA’AH YANG BERBAHAGIA .......
Sangat menarik untuk kita cermati sebuah kisah penuh hikmah; ketika Sayyidaatinaa Aisyah ra. ditanya tentang suaminya Nabi Muhammad SAW. jawabannya sungguh supel dan fleksibel. “Kaana Khuluquhu Al Qur’an.” (Pekertinya adalah Al Qur’an). Benar-benar cekak aos, singkat tapi penuh makna. Jawaban ini, juga membuktikan tingkat pemahaman yang luar biasa dari putri sahabat Abu Bakar itu terhadap Al Qur’an dan pribadi Nabi Muhammad SAW. maklum dia adalah murid sekaligus istri kinasih Nabi. 
Lebih kongkritnya; semua anjuran, perintah dan perilaku terpuji dalam Al Qur’an seperti : Taqwa, amal saleh, menegakkan kebenaran, memerangi kelaliman, membela kaum lemah, adil, berbudi, jujur, berkata benar, amar ma’ruf nahi mungkar dan seterusnya. Nabi Muhammad lah yang pertama-tama secara Istiqomah melaksanakannya. Dan, semua larangan, pantangan, dan hal-hal buruk yang dikecam Al Qur’an seperti syirik, mengkufuri nikmat, membunuh, mencuri, zina, kikir, dengki, tamak, serakah, berdusta, menghina sesama, dan hal-hal lain yang merendahkan martabat kemanusiaan. Nabi Muhammadlah yang pertama-tama dan secara istiqomah menjauhinya.
Maka tidaklah aneh, apabila kemudian sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW. begitu ditaati dengan sebab kasih sayangnya, bukan karena terpaksa. Mengapa demikian ? Sebagai pemimpin beliau menganjurkan, tapi sekaligus mencontohkan pengamalan anjurannya. Beliau yang melarang dan mencontohkan menjauhi larangannya. Sudah sedemikiankah sikap para tokoh agama dan pemimpin kita ? bila jawabannya belum, janganlah berharap banyak atas terwujudnya “ketaatan” dari yang dipimpinnya.
Pada waktu perang Khondak misalnya, kesediaan para sahabat sekalipun dalam keadaan yang sulit, lapar dan dahaga, dibawah terik matahari, mereka menggali parit atas perintah nabi, dengan penuh semangat. Ini tentu juga disebabkan oleh karena sang pemimpin tidak sekedar memerintah, melainkan ikut bahkan mengawali, mencontohkan bahkan ikut membantu pelaksanaan perintahnya itu.
HADIRIN SIDANG JUMAT RAHIMUKUMULLAH ......
Dalam masalah ibadah, nabi Muhammad Saw juga senantiasa menjaga agar umatnya tidak merasa terberati dan menganjurkan agar tidak memberatkan mereka. Nabi yang suka dan dalam rangka menganjurkan menyikat gigi misalnya, beliau bersabda dengan ungkapan :


لولا ان أشقّ على امّتى لأ مرتهم بالسّواك عند كلّ صلاة


Artinya : “Seandainya Aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka menyikat gigi setiap kali hendak melakukan sholat”.
“Shalat malam” kita ketahui merupakan ibadah rutin Nabi Muhammad Saw di malam hari. Mula-mula nabi melakukannya di Masjid, namun ketika banyak orang mengikuti jejaknya, beberapa malam kemudian nabi tidak keluar lagi melakukan sholat malam ke masjid. Menurut hadits shahih, ini dikarenakan Nabi khawatir shalat itu menjadi wajib dan memberatkan. Ketika Mu’ad Bin Jabal seorang sahabat dekat Nabi, dilaporkan terlalu panjang membaca bacaan-bacaan shalat saat menjadi imam, nabi Muhammad memarahinya. “dibelakangmu terdapat orang tua, dan orang-orang yang mempunyai keperluan”, sabda Nabi Muhammad memberi penjelasan. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain yang dapat anda baca dalam “shirah” sejarah perjalanan hidup nabi Muhammad Saw.
Dan anda tentu pernah mendengar sabda Nabi Muhammad yang luar biasa ini : “Barang siapa meninggal dan meninggalkan warisan, maka ahli warisnyalah yang berhak atas warisan itu, namun bila menanggung hutang, akulah yang menanggungnya”.
Juga sabda nabi Muhammad :” Yassiru walaa tu’assiruu”
Artinya : “Buat mudahlah kalian, dan jangan mempersulit”
Hadits-hadits ini lebih memperjelas betapa Nabi Muhammad Saw memang tidak suka memberatkan dan membebani umatnya.  Pada ayat lain yang ditujukan kepada Nabi, Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya ; QS. Ali - Imran :159 :


فبما رحـمة من الله لنت لهم. ولو كنت فظاّ غلــيظ القلب لا نفضّوا من حولك. فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم فى ا لأمر. فاذا عزمت فتوكّل على الله. انّ الله يحبّ المتو كّلين . (ال عمران : 159 )

Artinya : “Maka dengan rahmat dari Allah, engkaupun lemah lembut terhadap mereka umatku. Sekiranya engkau keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan lari dari padamu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini (urusan perjuangan dan urusan duniawi lainnya). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekadmu maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya”.

Nah, apabila ayat-ayat Al-Qur'an di atas, dan beberapa hadits yang mendukungnya kita gabung, kita akan memdapatkan “Profil Pribadi Pemimpin Yang Agung”  yang bercirikan : tidak tahan melihat penderitaan umatnya, sangat menginginkan keselamatan dan kebahagiaan ummatnya, sangat mengasihi dan menyayangi umatnya, lemah lembut kepada umatnya, mau bermusyawarah dan bertawakkal kepada Allah SWT. setelah membulatkan tekadnya.
Dari kepribadian Rasulillah Saw. inilah, bagi para pewarisnya, dan kaum muslimin yang beriman diharapkan dapat meneruskan membawa kasih sayang illahi itu, kepada semesta alam. Bukankah Allah sendiri berfirman kepada Nabi Muhammad SAW :


قل ان كنتم تحبّو ن الله فا تّبعو نى يحببكم الله ويغفر لكم دنوبكـم . و الله غفــور الرّحــيم.

Artinya : "Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah jejakku; niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Ali Imran : 31)

Maha Benar Allah dengan segala firmannya. Wallohu a’lam.


بارك الله لى ولكم فى القر آن العظيم. ونفعنى وا يّاكم بما فيهمن ا لايات والذّكر الحكيم ا نّه تعالى جوّاد كر يم ر ؤوف الرّ حـيم

Minggu, 14 November 2010

KHUTBAH IDUL ADHA

Posted by Eko 03.39, under | No comments

 

RESEP MEMPERBAIKI KUALITAS KEHIDUPAN BANGSA

 


الله أكبر الله أكبر الله أكبر 3X
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

            Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah Swt tidak memerintahkan kita untuk menghitung tapi mensyukurinya. Kehadiran kita pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci merupakan salah satu dari tanda syukur kita kepada Allah Swt.  

            Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.


Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

            Hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah Swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yaitu Nabi Ibrahim as beserta keluarganya; Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad Saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah Swt berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS 60:4).

Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan beliau serta mengambil hikmah dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di tanah suci, pada kesempatan khutbah yang singkat ini, paling kurang ada lima isyarat yang bisa kita ambil sebagai resep dalam memperbaiki kualitas  kehidupan bangsa. Kualitas  kehidupan bangsa kita saat ini sangat rendah, padahal mayoritas penduduknya adalah muslim. Karena itu, dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya serta dari pelaksanaan ibadah haji, Lima hal ini sekaligus menjadi kunci bagi upaya memperbaiki kualitas kehidupan bangsa sehingga mudah-mudahan bisa menyelamatkan kehidupan bangsa dari kehancuran, apalagi kita masih terus berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar yang menghantui kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pertama, berbaik sangka kepada Allah Swt, sikap ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dari sikap inilah kita akan menjalani kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah Swt. Nabi Ibrahim dan isterinya Siti Hajar telah menunjukkan sikap yang sangat positif kepada Allah Swt. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk memindahkan Siti Hajar dan anaknya Ismail as ke Makkah, terasa berat untuk melakukan hal ini, bukan semata-mata harus berpisah dengan isteri dan anak, tapi juga karena di Makkah pada waktu itu belum ada kehidupan, tidak ada manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang bahkan air sekalipun. Sikap berbaik sangka kepada Allah membuat Ibrahim dan Siti Hajar yakin bahwa tidak mungkin Allah Swt punya maksud buruk dalam memerintahkan sesuatu. Begitu pula halnya dengan perintah menyembelih Ismail as. Memang harus kita sadari bahwa ketika Allah Swt memerintahkan sesuatu itu berarti Allah ingin mewujudkan kemaslahatan atau kebaikan-kebaikan dan ketika Allah melarang, itu berarti Dia ingin mencegah terjadinya mafsadat atau kerusakan-kerusakan yang akan menimpa manusia. Dalam satu hadits, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

Janganlah salah seorang dari kalian mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah (HR. Abu Daud dan Muslim).


Manakala seseorang sudah berbaik sangka kepada Allah Swt, maka ia optimis bahwa ada hari esok yang lebih baik. inilah pelajaran penting yang harus kita peroleh dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sikap ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dari sikap inilah kita akan menjalani kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah Swt.

            Dalam kehidupan masyarakat kita sekarang, banyak orang yang telah hilang sikap optimismenya sehingga terasa tidak mungkin ada perubahan yang lebih baik, ini merupakan sikap yang  berbahaya dan harus dihindari karena seseorang menjadi apatis atau masa bodoh dengan berbagai persoalan yang ada di sekitarnya bahkan bisa putus asa hingga bunuh diri ketika menghadapi persoalan pribadi dan keluarga yang berat. Indikasi ini sudah banyak terjadi, bahkan bunuh diri tidak hanya terjadi pada orang dewasa tapi juga pada anak-anak. Kesulitan manusia, sesulit apapun yang dialaminya pada hakikatnya tidaklah sesulit generasi terdahulu, selalu ada saja kesulitan yang lebih sulit dialami oleh generasi terdahulu.


Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua, manakala seorang muslim sudah berprasangka baik kepada Allah, maka apapun yang diperintah Allah akan dilaksanakan dan apapun yang dilarang akan ditinggalkannya, inilah yang disebut dengan disiplin dalam syari’at, Ibadah haji dan kurban merupakan pelaksanaan dari salah satu syari’at yang diturunkan Allah Swt. Ini berarti seorang muslim harus menunjukkan kedisiplinannya untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari'at, hukum atau undang-undang dari Allah Swt, baik dalam perkara kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara. Disiplin dalam syari'at akan membuat seorang muslim tidak tergoyahkan oleh komentar-komentar negatif dari orang yang tidak mengerti terhadap syari'at, Allah Swt berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ الاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ


Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari'at dari suatu urusan, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang yang tidak mengerti (QS 45:18)

            Ibadah haji mendidik umat Islam untuk disiplin dalam syari’at. Ibadah ini dimulai dengan ihram yang berarti pengharaman dan diakhiri dengan tahallul yang berarti penghalalan. Dari sini, seorang muslim apalagi seorang haji akan selalu siap meninggalkan sesuatu yang memang diharamkan Allah Swt dan hanya mau melaksanakan sesuatu bila memang dihalalkan oleh Allah Swt.

Resep Ketiga yang merupakan pelajaran dari Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya guna memperbaiki kualitas bangsa adalah mau berusaha untuk mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya membuat manusia seharusnya mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah Swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah Saw bersabda:

ِانَّ للهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ  يَرَى تَعِبًا فى ِطَلَبِ الْحَلاَلِ

Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).

Usaha yang halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah mendapatkannya, tapi cara memperolehnya adalah dengan mengemis yang hanya akan menjatuhkan martabat pribadi. Bila mengemis saja sudah tidak terhormat apalagi bila mencuri atau korupsi dan cara-cara yang tidak halal lainnya. Rasulullah Saw bersabda:

َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ، ثُمَّ يَجِيْءَ فَيَضَعَهُ فِى السُّوْقِ، فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِىَ بِهِ، فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ.
Seseorang yang membawa tali lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.

            Keempat, resep untuk memperbaiki kualitas kehidupan bangsa adalah bergerak dalam kebaikan. Ibadah haji merupakan ibadah bergerak. Para jamaah bergerak dari rumahnya menuju ke asrama haji, hanya beberapa jam di asrama haji, para jamaah harus bergerak lagi menuju Bandara, sesudah naik pesawat, mereka diterbangkan menuju bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dari Jeddah para jamaah harus bergerak lagi menuju Madinah bagi jamaah gelombang pertama untuk selanjutnya Menuju Makkah, sedang bagi jamaah gelombang kedua para jamaah langsung ke Makkah. Disana jamaah langsung menunaikan umrah hingga tahallul. Selama beberapa hari di Makkah, para jamaah sudah harus bergerak lagi untuk melaksanakan puncak ibadah haji, mereka harus bergerak lagi menuju Arafah untuk wuquf, malam harinya menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu, keesokan harinya melontar di Mina, Tawaf ifadhah di Makkah, kembali lagi ke Mina untuk melontar hingga selesai, lalu kembali lagi ke Makkah untuk bersiap meninggalkan Makkah menuju Tanah air masing-masing dan sebelum meninggalkan Makkah, para jamaah bergerak lagi untuk melakukan tawaf wada, yakni tawaf perpisahan dengan ka’bah. Dari rangkaian ibadah haji, puncak kesulitan bahkan resiko yang paling besar adalah saat melontar yang melambangkan perlawanan atau peperangan melawan syaitan.

Dari rangkaian ibadah haji, kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap muslim apalagi mereka yang sudah menunaikan haji seharusnya mau bergerak untuk memperbaiki keadaan. Setiap muslim harus bergerak untuk mencari nafkah, bergerak mencari ilmu, bergerak untuk menyebarkan, menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, bergerak untuk memberantas kemaksiatan dan kemunkaran. Ini semua menunjukkan bahwa seorang muslim jangan sampai menjadi orang yang pasif, diam saja menerima kenyataan yang tidak baik, apalagi bila hal itu dilakukan dengan dalih tawakkal, padahal tawakkal itu adalah berserah diri kepada Allah atas apa yang akan diperoleh sesudah berusaha secara maksimal.

Kelima, resep untuk memperbaiki kualitas kehidupan bangsa adalah pengorbanan di jalan yang benar. Idul Adha merupakan hari raya qurban, satu hari yang mengingatkan kita untuk memperkokoh semangat pengorbanan, hal ini karena Nabi Ibrahim dan keluarganya yang kita kenang pada hari raya Idul Idha ini merupakan tokoh yang tiada tara dalam berkorban untuk menunjukkan ketaatannya kepada Allah Swt. Qurban secara harfiyah berarti pendekatan, yakni pendekatan diri kepada Allah Swt agar kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti menjadi baik. Orang yang mau berkorban berarti orang yang menyadari akan masa depan yang lebih penting dari pada masa sekarang. Karena itu Allah Swt berfirman:

يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan perhatikanlah dirimu, apa yang sudah kamu perbuat untuk hari esok, bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat (QS 59:18).
Pengorbanan memang harus kita lakukan dalam hidup ini, karena pengorbanan itu tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi sebenarnya bagi kita juga, hal ini karena bila kita memiliki kemampuan mengorbankan sesuatu lalu kita mengorbankannya, maka orang lain akan menghormati dan memuliakan kita meskipun kita tidak mencari-cari hal itu, sedangkan bila kita mempunyai kemampuan untuk berkorban tapi kita tidak melakukannya, maka orang lain akan menghinakan kita, itulah diantara manfaat berkorban bagi diri kita.

Dalam konteks memperbaiki kualitas kehidupan bangsa, pengorbanan merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Kerusakan dan kerancuan pada masyarakat dan bangsa kita merupakan akibat dari ketiadaan semangat berkorban sehingga banyak sekali orang yang dalam mengabdikan diri untuk kemajuan masyarakat dan bangsa tidak berpikir tentang apa yang bisa mereka berikan tapi justeru apa yang mereka harus dapatkan. Oleh karena itu, idealnya kita terus berpikir dan berusaha tentang apa manfaat yang bisa kita berikan kepada kebaikan dan kemajuan masyarakat dan bangsa, bukan apa yang bisa kita dapatkan.

Sebagai muslim, menjadi keharusan bagi kita untuk memiliki sikap optimis, yakin akan hari esok yang lebih baik selama mau diupayakan dengan penuh kesungguhan. Sejarah telah menunjukkan kepada kita bagaimana perubahan nasib menjadi lebih baik bagi orang-orang yang mengalami kesulitan hidup selama mereka masih punya keyakinan akan hari esok yang lebih baik dan mau berusaha semaksimal mungkin dengan cara-cara yang halal dan meningkatkan kemampuannya dalam berusaha dengan selalu bertawakkal kepada Allah Swt. Sementara itu, banyak juga kita dapati manusia yang semula hidupnya bahagia, aman, tentram, sentosa berubah menjadi sengsara, menderita, dicekam oleh rasa takut, tidak memperoleh keamanan dan tidak punya masa depan yang cerah karena mereka sendiri yang merubah keadaan mereka menjadi seperti itu. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:

اِنَّ اللهَ لاَََ يُغَيِّرُوْ ماَ بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَابِاَنْفُسِهِمْ


Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada mereka sendiri (QS 13:11).

Akhirnya, marilah kita siapkan diri, keluarga dan masyarakat kita untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Kearah itu, diperlukan pemimpin yang baik, pemimpin yang bukan sekedar berstatus sebagai muslim tapi memang dapat menunjukkan identitas keislaman, keberpihakan pada nilai-nilai Islam dan mampu menunjukkan pelayanan kepada masyarakat. Momentum Idul Adha sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk memacu diri kita berusaha lebih keras dan sungguh-sungguh agar terwujud negeri yang baik dan memperoleh ridha Allah Swt.  

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Senin, 01 November 2010

KHUTBAH JUM'AT

Posted by Eko 07.33, under , | No comments

TIGA AMALAN BAIK
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Kaum Muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT, yakni dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Menjalankan perintah-Nya baik yang bersifat wajib maupun yang bersifat sunnah. Menjauhi larangan-Nya baik yang haram maupun yang makruh merupakan cermin kesempurnaan iman seseorang. Karena iman itu di samping harus tertanam di dalam hati, diucapkan dengan lisan juga harus dibuktikan dengan amal perbuatan, dengan demikian semoga kita tergolong dalam orang-orang yang selamat dan bahagia hidup di dunia maupun akhirat.
Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.
Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar
1. Istiqomah. yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah.
Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits berikut:
عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم)

“Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai asulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).
Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)
2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة )

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari ini dan bicaralah esok hari).
Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda:
أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي عن جابر )

Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari Jabir).
Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama . Para pakar barang kali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat.
Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.
Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.

Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)
3. Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.
Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloan Allah.
Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.
Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.
Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:
“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).

Para Jamaah yang dimuliakan Allah
Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan TIGA Hal di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.
Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmatNya yang melimpah. Amin
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.




















KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أ